Monday, June 6, 2011

Friday, May 6, 2011

Aku Mati

Aku hilang arah
Aku terus mengira jejakmulah yang aku ikuti
Itu semua omong kosong
Aku hanya berjalan membentuk lingkaran setan
Aku melangkah menjauhimu, mendekati duniaku
Melangkahi langkah kakiku, bukan langkah kakimu
Matilah aku

Saturday, March 19, 2011

Oasis - Wonderwal

Wednesday, March 16, 2011

Oh

nonton tayangan tsunami jepang di sekre mp
BRAM:gilak, itu apa rasanya ya ada di mobil?
LOLA:njeh.. ga ngerti lah, gilak.. tapi korbannya ga sebanyak aceh, ya?
BRAM:iyalah, jepang kan manajemen bencananya udah bagus..
EGI:udah bagus aja masih ada korban..
MIRZA:lagian kalo di jepang mah ada gempa orang pada ke luar gedung, pas di aceh ada gempa malah pada sujud sambil teriak "Allahu Akbar"
Quote Lyrics of The Day:

Memories are bittersweet
The good times we can’t repeat
Those days are gone and we can never get them back
Now we must move ahead
Despite our fear and dread
We’re all just wishing we could stop, but

Life goes on
Come of age
Can’t hold on
Turn the page

The Offspring - Can't Repeat

Tuesday, March 15, 2011

Surat dari Bagas untuk Nares

Inilah yang tak mampu saya pahami dari kamu, kamu tidak berusaha membuat saya mengerti keadaan kamu. Saya bukan peramal, Nares. Kemampuan saya memahami kamu hanya sebatas kemampuan indra saya menginterpretasikan bahasa tubuhmu. Tak lebih! Saya bukan peramal.

Kamu menulis mengenai betapa saya merindukan kita yang lama, saya merindu kita yang lama, tentu! Tapi itu tak lantas mengurangi makna kita yang sekarang, kita yang utuh, yang telah melewati semua proses bersama. Ya, kita. Tak peduli dulu, sekarang, atau masa yang akan datang, konsepsi itu tetap sama: Kita, Bagas dan Nares.

Nares, adakah kamu pernah berpikir bahwa saya telah sadar dari awal bahwa kamulah labuhan terakhir saya? Saya menemukan kamu bukan dengan kebetulan yang kerap dibicarakan para novelis picisan a la teenlit populer kekinian, saya menemukan kamu dengan jibaku yang ketat dan tetap saya lakukan sampai hari ini, karena hati kamu sedang berusaha direbut orang lain.

Maafkan saya yang kerap mendua dengan mereka yang telah menjadi candu saya. Tapi mereka hanya objek! Tak lebih! Adakah kamu sudi dipersamakan dan disandingkan dengan benda mati sebagai rivalmu? Kamu terlalu berharga untuk disandingkan dengan mereka, Nares sayang. Kamu adalah kamu yang tak terganti oleh apapun dan siapapun juga. Tidak seorangpun dapat menggantikan orang yang lain. Kita ini subjek yang utuh.

Kamu adalah sosok perempuan yang kuat, Nares. Ingatkah ketika saya melukaimu dengan berkata bohong dan melanggar janji saya? Kamu berdiri di situ, ketika nadir saya tiba, kamu tidak turut mengeruk lubang kehancuran saya menjadi lebih dalam, kamu hadir dalam kehancuran saya, menjadi bagiannya, dan bersama-sama kita membantu diri saya keluar dari lubang itu. Itulah nadir saya, bukan denganmu, bukan dengan hubungan kita, tapi dengan diri saya sendiri. Tak ada nadir-nadir yang lain.

Nares sayang, mungkin kamu akan tetap tidak mampu memegang ucapan dan janji-janji saya, tak masalah. Kamu berhak melakukannya, saya sudah terlalu sering menyakitimu dan berbohong kepadamu, tapi jangan pernah meragukan kesungguhan saya dalam konteks "kita". Hanya kamu dan hubungan kitalah yang saya punya sekarang.

Ketahuilah sayang, saya bertahan bukan karena saya merasa bertanggungjawab telah melukaimu, tapi karena saya sadar dan tahu bahwa kamu adalah salah satu alasan terbesar saya memiliki harapan atas diri saya sendiri. Kamu memiliki keyakinan yang cukup buta bahwa saya bisa menjadi dan melakukan apa saja yang saya mau. Terima kasih.

Nares sayang, surat ini berakhir di sini. Keatuhilah bahwa saya menyesal telah menyakitimu dan perempuan-perempuan lain dengan perkataan memalukan saya tempo hari. Kamu menyadarkan saya bahwa mereka juga adalah manusia perempuan yang utuh, sama seperti kamu dan ibu saya, perempuan-perempuan yang paling saya sayangi. Terima kasih sudah mengajarkan saya untuk mampu melihat dari kacamatamu. Dan inilah jawaban atas pertanyaanmu, ketika kepercayaanmu telah hilang atas saya, percayalah bahwa saya masih percaya kamu, dan itulah yang harus kamu pegang. Demi saya dan demi kita.

Jakarta, 15 Maret 2011


Bagas


Saturday, March 12, 2011

Surat dari Nares untuk Bagas

Malam ini bulan tak kunjung datang. Langit terlampau pucat, semua-semua disimpan untuk sendiri. Langit kita menjadi kemaruk, ia enggan bagi keceriaan buat semua, tidak ada keceriaan untukku, apalagi untuk kita. Mungkin dia lelah tiap malam harus berpura-pura ceria, hingga dilapisinya wajahnya denga pupur. Ia berhasil, pupur itu melekat demikian kuat, hingga aku lantas menjadi penat.

Adakah ini pertanda?

Malam itu kamu berkata bahwa kamu merindu kita yang lama. Aku juga sama, hanya saja aku terlalu hina untuk berani berkaca darinya: Aku berubah, kamu berubah, kita berubah. Bukan tanpa dosa, hanya saja kita yang lama adalah kita yang belum mengenal dengan dalam, ada apa di balik individu yang menghidupi kita itu.

Aku lantas mengutuki diri. Andai saja hari itu tak pernah ada, andai saja aku lebih kuat untuk tidak menjadi aku yang sekarang, mungkin saja kepercayaan itu masih ada. Bahwa konsepsi laki-laki yang telah terlalu ketat diberlakukan dan konsepsi perempuan yang telah terlalu rendah diberlakukan, hanya metafora atas sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan. Tapi tidak, akhirnya semua itu hanya pencitraan. Perempuan tetap menanggung semuanya sendiri, dan lelakinya bebas melenggang pergi tanpa arti.

Perkataanmu menyakitiku dan perempuan-perempuan lain.

Adakah kamu sadar? Bahwa kamu adalah lelucon paradoks terbesar yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tak hendak memintamu tinggal, pergilah bila nadirmu telah tiba. Aku tak akan memohon, mungkin hanya akan bertanya, "Pernahkah kamu memaknai arti kita?" Lantas? Aku akan melepasmu, kapan saja kamu siap. Aku toh hanya satu fase dalam hidupmu, satu fase yang membantumu berproses menjadi kamu yang sekarang. Tak lebih.

Aku bukan benda rusak, jangan pernah merasa bertanggung jawab atas hidupku.

Bagas, surat ini aku buat untuk kamu tahu bahwa kita tak akan bisa kembali ke masa lalu, tapi kita mampu berkaca, meski kita merasa hina. Aku tak akan memaksa kita bersatu. Mungkin aku terlalu memaksa untuk akhirnya aku mau kita tak lagi bersama. Aku harap aku salah, karena aku lelah berharap pada kamu yang tak pernah mampu meyakinkan keyakinanmu kepadaku.

Kamu punya apa lagi untuk aku pegang?

Bagas, malam ini langit pucat bukan main, dan aku merasa bahwa bahkan langitpun bisa berduka atas apa yang terjadi di antara kita (atau tidak?). Surat ini akan kuakhiri dengan kesadaran bahwa aku bukan yang terbaik untukmu, meski kamu telah menjadi yang terbaik dalam waktu-waktu kita bersama. Aku tak akan mampu memahamimu, lagipula aku merindukan aku yang dulu.

Ketika kepercayaan itu hilang, apalagi yang aku punya?

Kudus, 11 Maret 2011


Nares


Friday, March 11, 2011